profilku

Nama : Ahmad Burhani Subhan Tempat Lahir : Petanahan, Kab.Kebumen Tanggal Lahir : .....-.....-....... Pekerjaan : Abdi Rakyat Status : Menikah Nama Istri : Kuswati Burhan,S.Pd.Ing Nama Anak : Royyan Ibnu Pratama Alamat : Jl. Adipati Mersi No.24 Purwokerto Timur, Banyumas, Jawa Tengah "UCAPAN" Saya ucapkan banyak terima kasih yang pertama tentunya kepada Alloh SWT yang selalu memberikan kepada saya nikmat yang tak terhingga, kepada junjungan kita Nabi Akhiruzzaman Muhammad SAW yang selalu kita tunggu syafa`atnya di yaumil akhir, kepada kedua orang tua saya HM. Tohari dan Hj. Pardiyah yang telah menuntun dan mendidik saya untuk menjadi manusia yang sholeh dan yang terakhir kepada Istri saya tercinta dan si kecil tentunya yang selalu saya jadikan sepirit untuk penyemangat hidup.

Pages

Subscribe:

PROGRAM UANG TAMBAHAN !!!

PROGRAM UANG TAMBAHAN RESMI DAN BERGARANSI GABUNG BERSAMA HANS KOMP !!! KLIK DISINI UNTUK BERGABUNG CUMA REGISTRASI Rp.75.000 KALIAN DAPAT UANG TAMBAHAN 250-500 ribu/hari, BURUAN KESEMPATAN TERBATAS !!!

Pages

Upaya Peningkatan Pembinaan Satuan Brigif Guna Mendukung Kesiapan Operasi


Perkembangan lingkungan strategis yang diwarnai terjadinya globalisasi dunia telah berkibat pada semakin transparannya batas-batas antar negara.   Sehingga tantangan yang dihadapi oleh bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia semakin besar dan kompleks.    Sebagai negara kepulauan yang berada tepat pada jalur lalu lintas perdagangan internasional, bangsa Indonesia dituntut untuk senantiasa siap dalam menghadapi berbagai kemungkinan ancaman yang datang baik dari dalam maupun dari dalam negeri. 

Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat sebagai alat Pertahanan Negara di darat bersama-sama dengan komponen bangsa lainnya bertugas pokok menegakkan kedaulatan negara dan keutuhan wilayah Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-undang 1945, serta melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa dan negara.   Dengan semakin meningkatnya tantangan yang dihadapi oleh TNI AD, maka TNI AD melalui konsep pembinaan satuan diharapkan mampu mewujudkan satuan yang professional, efektif, efisien dan modern. 
Menyikapi hal tersebut diatas, maka Brigif yang merupakan Satuan Tempur yang  disiapkan  untuk melaksanakan kegiatan operasi pertempuran baik secara mandiri maupun merupakan bagian dari satuan yang lebih besar
Brigif adalah satpur  yang terdiri   dari  beberapa  Yonif dan dapat  diperkuat   dengan  satuan   cabang    lain   secara serasi agar  mampu  beroperasi  mandiri  atau merupakan  bagian  dari  satuan  yang  lebih  besar telah  melakukan berbagai upaya peningkatan kemampuan satuan jajarannya baik Satuan Tempur maupun Satuan Bantuan Tempur melalui pembinaan satuan di satuan masing-masing.  Namun, pembinaan satuan yang merupakan segala usaha kegiatan dan pekerjaan yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, pemberian motivasi dan pengendalian untuk menghasilkan suatu tingkat ketangguhan daya tempur atau daya kerja satuan guna mencapai tujuan organisasi di jajaran Brigif belum sepenuhnya dapat berjalan sesuai dengan harapan, dimana terlihat  adanya gejala penurunan profesionalisme prajurit, menurunnya motivasi dan etos kerja, kondisi material  yang sudah usang/tua, pengelolaan manajemen latihan yang terkesan asal jalan dan sekedar memenuhi program serta kurangnya kreativitas komandan satuan dalam menerapkan strategi untuk menghadapi tantangan manajemen binsat.
Persoalan-persoalan tersebut diatas, banyak diakibatkan oleh belum maksimalnya kegiatan pengamanan personil, materiil, markas, profesionalisme prajurit, moril, penegakan hukum, disiplin, pembekalan dan kemanunggalan rakyat di lingkungan satuan.    Dampak yang timbul dari adanya berbagai permasalahan tersebut adalah satuan Brigif termasuk jajarannya belum memiliki kesiapan untuk diberi tugas operasi. Hal ini tentu saja tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, mengingat intensitas ancaman yang datang baik dari dalam maupun luar negeri di Indonesia semakin besar.  Walaupun ancaman konvensional berupa invasi militer negara asing masih belum tampak, namun ancaman separatisme bereskalasi tinggi seperti di Aceh pada masa sebelum ditandatanganinya kesepakatan perdamaian masih mungkin untuk terjadi di masa-masa yang akan datang.
Secara hirarkhis, konsep pembinan satuan TNI-AD dijabarkan oleh satuan jajaran TNI AD termasuk Brigade Infanteri dalam membentuk program pembinaan satuan yang ditujukan pada peningkatan kualitas dan kuantitas personil, materiil, latihan, pangkalan dan piranti lunak agar mencapai standar yang telah ditentukan, yang secara integratif dapat menjabarkan kesiapan operasional satuan.   Kondisi satuan jajaran Brigif XX pada umumnya bervariasi  pada status Mantap I, II dan ada yang berstatus III menunjukkan bahwa pembinaan satuan yang dilakukan satuan jajaran belum berjalan secara optimal dan masih ada satuan yang belum memiliki kesiapsiagaan operasional sehingga dapat menghambat pelaksanaan tugas-tugas Brigif secara keseluruhan.
          Dari segi Personel, secara kuantitas satuan-satuan jajaran Brigif baik Satpur maupun Satbanpur masih memiliki banyak kekurangan personel sehingga belum memenuhi TOP/DSPP. Secara kualitas,  personel yang dimiliki oleh  satuan-satuan  jajaran Brigif masih belum sesuai dengan yang diharapkan baik dalam segi kesesuaian pangkat dan jabatan, kesesuaian pendidikan dan jabatan, kesehatan maupun kondisi kejiwaan sebagai seorang prajurit TNI.     Secara umum permasalahan yang dihadapi oleh satuan jajaran Brigif XX adalah : 1)  Pemenuhan personil belum mencapai pada status kemantapan satuan, mengingat masih ada satuan jajaran Brigif yang mengalami kekurangan jumlah personel; 2)  Belum adanya kesesuaian jabatan khususnya BA dan TA, sehingga mengkibatkan terhmbatnya pelaksanaan tugas-tugas dilapangan; dan 3)  Latar belakang pendidkan umum dan spesialisasi belum memenuhi spesifikasi satuan.
          Dari segi materiil, masih menemui berbagai kendala yaitu persenjataan yang belum lengkap terutama senjata kaliber besar, Alkom dan Aloptik yang tersedia tidak memadai dihadapkan pada TOP, Jumlah munisi dihadapkan kepada latihan tidak mencukupi dan khusus untuk Satuan Bantuan Tempur, Kendaraan dihadapkan pada tugas-tugas yang dihadapi tidak memadai, serta Kemampuan Har cegah untuk awak kendaraan belum memadai.
          Dari segi markas/pangkalan, secara kuantitas pada umumnya fasilitas bangunan dan perkantoran telah sesuai dengan kebutuhan dalam penyelenggaraan operasional sehari-hari dan dapat mendukung operasional mengingat jumlahnya telah sesuai dengan TOP yang telah ditentukan, namun untuk fasilitas latihan dilihat dari segi kuantitas belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan seperti lapangan HR, lapangan perkelahian sangkur, menara serba guna dan lapangan tembak untuk menembak tank dll.   Sedangkan untuk fasilitas olah raga yang tersedia di satuan sudah dapat mendukung kegiatan satuan, kecuali fasilitas pendukung fasilitas perumahan yang masih belum memenuhi ketentuan yang telah ditentukan.   Sementara itu dari segi kualitas banyak markas/pangkalan yang tingkat kelayakan pakainya masih kurang, sehingga jaminan terhadap pengamanan personel dan materiil-nya puna kurang optimal.
          Dari segi profesionalisme prajurit, satuan jajaran Brigif senantiasa memberikan kegiatan latihan secara terprogram, bertahap dan berkesinambungan untuk mencapai tingkat keterampilan/kecakapan prajurit di bidang taktis dan teknis kemiliteran sebagai cerminan dari profesionalisme prajurit.  Namun demikian kondisi nyata saat ini, satuan jajaran Brigif masih menemui permasalahan antara lain :  1)   Adanya penugasan satuan-satuan diluar program kerja yang terlalu banyak akan menjadikan suatu permasalahan bagi satuan tersebut dalam pelaksanaan program kerja satuan yang telah ditentukan oleh Komando Atas; 2) Adapun keterbatasan sarana dan prasarana latihan di satuan-satuan juga dapat menjdi permasalahan terhadap pelaksanaan latihan-latihan baik latihan satuan maupun latihan dalam satuan; 3) Keterbatasan tenaga pelatih yang berkualifikasi disatuan-satuan akan mengganggu dalam pelaksanaan latihan itu sendiri; dan 4)      Belum adanya kejelasan terhadap Direktif latihan bagi  satuan-satuan Banpur jajaran Brigif.
          Dari segi moril.  Untuk memelihara moril prajurit upaya pembinaan satuan di satuan  jajaran Brigif XX senantiasa melaksanakan pembinaan moril melalui usaha untuk membantu pengurusan hak/tunjangan secara tepat waktu, memberikan Gaji/ULP dan hak-hak lainnya setiap bulan sesuai ketentuan yang berlaku, memberikan cuti tahunan bagi personel Militer selama 12 hari kerja sesuai ketentuan/petunjuk Komando Atas, dan pengajuan KTA TNI, KPI dan Satya Lencana bagi anggota.   Namun usaha-usaha tersebut masih dirasakan belum cukup, mengingat tingkat kebutuhan hidup anggota saat ini di lingkungan satuan Brigif cenderung tinggi, sehingga penghasilan yang pas-pasan membuat moril para anggota menjadi menurun, yang berakibat pada pelaksanaan tugasnya menjad tidak maksimal.
          Dari segi penegakan hukum, disiplin dan tata tertib.  Upaya pembinaan hukum, disiplin dan tata tertib dilaksanakan sesuai aturan dan ketentuan yang belaku di satuan, namun ada beberapa anggota yang masih banyak melakukan berbagai pelanggaran terhadap aturan tata tertib satuan maupun pelanggaran hukum di lingkungan masyarakat, yang berakibat pada merosotnya citra TNI AD di tengah-tengah masyarakat.
          Dari segi pembekalan mental, satuan jajaran Brigif XX melaksanakan berbagai upaya pembinaan mental yang meliputi  :   1) Pembinaan mental rohani. Ceramah Bintal kepada anggota maupun keluarga 1 Bulan sekali dan melaksanakan pengajian keliling 1 Bulan sekali dan pengajian rutin 2 kali dalam 1 Minggu (Anggota Militer pada hari Kamis Malam Jum’at dan Ibu Persit pada hari Senin dan Kamis); 2)  Pembinaan mental kejuangan.   Pelaksanaan jam Komandan, tradisi satuan, Santi Aji/Santi Karma terhadap seluruh anggota pada setiap hari Senin atau pada waktu-waktu tertentu sesuai situasi dan kondisi yang dihadapi.  Pembinaan mental yang dilaksanakan tersebut hasilnya memang dapat dirasakan dengan semakin meningkatkan mentalitas prajurit ketika ia bertugas di kesatuan.  Namun seiring dengan meningkatnya intensitas pengaruh negatif yang masuk akibat adanya globalisasi dan perkembangan lingkungan masyarakat yang cenderung negatif telah melunturkan sikap mental pada sebagian anggota.   Hal ini berakibat pada terjadinya penurunan sikap mental prajurit dalam melaksanakan tugas sehari-hari atay ketika ia ditugaskan di daerah operasi.
Dari segi kemanunggalan dengan rakyat.  Sebagai realisasi dari pelaksanaan pembinaan teritorial secara terbatas, satuan jajaran Brigif berusaha untuk melestarikan kemanunggalan antara TNI dengnan rakyat dengan berbaik-baik dengan rakyat.  Namun dengan adanya sikap individualisme di tengah-tengah masyarakat serta adanya berbagai tindakan pelanggaran hukum yang dilakukan oleh oknum prajurit di lapangan, telah berakibat pada renggangnya hubungan masyarakat di sekitar lingkungan satuan dengan anggota dan satuan.  Kondisi ini secara tidak langsung telah memudarkan kemanunggalan TNI dengan rakyat, sehingga seringkali menyulitkan pelaksanaan tugas satuan jajaran Brigif XX karena tidak mendapatkan dukungan dan simpati dari masyarakat.
Oleh karena itu dalam rangka menghadapi tantangan dan tuntutan tugas ke depan yang semakin kompleks, maka perlu ada langkah optimalisasi pembinaan satuan guna mewujudkan kemantapan dan kesiapsiagaan operasional dalam rangka mendukung keberhasilan tugas pokok Brigif XX dalam melaksanakan melaksanakan  semua  operasi darat  dalam bermacam-macam kondisi  medan  cuaca  daerah  tropis  secara berdiri sendiri atau  bagi  satuan yang lebih besar melalui penerapan pembinaan satuan yang tepat agar sasaran-sasaran yang telah ditetapkan dalam program pembinaan satuan dapat tercapai secara optimal, sehingga diperoleh suatu kesiapan satuan baik di bidang personel, materiil, markas dan profesionalisme prajurit, moril, tegaknya hukum dan disiplin anggota, serta terciptanya kemanunggalan dengan rakyat dalam rangka pelaksanaan pembinaan teritorial secara terbatas yang menjadi salah satu tugas Brigif XX serta setiap saat siap digerakkan di daerah operasi untuk menghadang setiap ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan yang datang baik dari dalam maupun dari luar negeri.
          Adapun upaya pembinaan satuan yang dapat dilakukan dalam rangka meningkatkan kemampuan satuan jajaran Brigif XX agar siap untuk diberi tugas operasi adalah : Pertama, dalam bidang personel, upaya pembinaan diorientasikan pada prinsip-prinsip pembinaan personil, siklus pembinaan personil tetap melaksanakannya tugas-tugas satuan serta meningkatkan kesejahteraan personil. Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka upaya pembinaan personil yang dapat dilakukan adalah memenuhi kebutuhan personel baik secara kuantitas maupun kualitas; penyesuaian pangkat dan pendidikan dengan jabatan anggota di satuan; meningkatkan jumlah personil yang memiliki kualifikasi sesuai jabatannya; meningkatkan kesejahteraan prajurit dan keluarganya, serta meningkatkan kualitas kepemimpinan perwira.  Kedua, di bidang materiil, adalah dengan : 1) Mengajukan kekurangan materiil untuk memenuhi ketentuan status mantap satuan masing-masing; 2)  Mengembalikan materiil satuan yang sudah tidak layak pakai untuk mengurangi beban, sehingga konsentrasi kerja dapat diarahkan kebidang lain; 3)     Mengajukan penggantian senjata organik M 16 A1 menjadi SS1; 4) Mengadakan pemeliharaan dan perbaikan kendaraan dan alpal yang dimiliki guna memperpanjang usia pakai bagi alat peralatan/materiil khususnya senjata yang mengalami kerusakan sesuai dengan kemampuan satuan;   5) Mengadakan latihan dalam satuan tentang Har cegah terhadap alat peralatan khususnya penataran montir agar dapat memperbaiki kendaraan secara mandiri tanpa mengandalkan satuan lain.   Ketiga, di bidang Markas/Pangkalan, adalah melalui  :  1)  Mengadakan pemeliharaan secara terbatas yang dilaksanakan oleh personel penghuni agar kondisi pangkalan tetap terjaga; 2)     Mengadakan pengajuan kepada Komando Atas tentang dana rehabilitasi perumahan; 3)   Pembuatan pagar keliling asrama dan ditanami dengan tanaman/pohon yang dapat digunakan sebagai rintangan/hambatan guna pengamanan pangkalan; 4) Menghimbau kepada warga masyarakat di sekitar asrama agar melaksanakan  lapor cepat apabila kemungkinan terjadi hal-hal yang berkaitan dengan masalah pengamanan satuan; 5)  Pembuatan Pos di tempat-tempat yang kemungkinan rawan;  6)  Melaksanakan kegiatan patroli oleh personel siaga yang diatur secara bergiliran dengan waktu yang tidak sama (tidak rutinitas);   7)  Untuk mengurangi kecelakaan akibat dari sempitnya jalan dan ramainya lalu lintas di depan Asrama perlu dihimbau kepada para pemakai jalan agar berhati-hati dalam berlalu lintas sesuai dengan norma yang berlaku.  Perlu adanya koordinasi dengan instansi yang terkait guna menertibkan lalu lintas di depan Asrama.    Penekanan terhadap seluruh anggota agar lebih berhati-hati/tidak lengah dalam menggunakan jalan raya baik dalam berkendaraan maupun  jalan kaki; Keempat, dibidang profesionalisme prajurit, dilaksanakan kegiatan seperti : 1)          Melaksanakan kegiatan latihan secara bergantian antara Kompi yang satu dengan kompi yang lain, sehingga seluruh kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya dapat terlaksana secara keseluruhan;  2) Mengadakan kreasi terhadap kegiatan latihan sehingga tidak terkesan membosankan.   3)
 Melaksanakan latihan dalam satuan dalam rangka memenuhi kebutuhan akan suatu kemampuan yang tidak terprogramkan dari Komando Atas.    4)   Kaderisasi pelatih secara berkesinambungan guna memperoleh kualitas pelatih yang handal dalam rangka mewujudkan satuan yang lebih profesional.   5)  Proses kegiatan latihan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang ada di dalam manajemen latihan mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pengakhiran, sehingga tujuan maupun sasaran latihan dapat terwujud; 6)   Melengkapi dengan pengadaan sarana/prasarana latihan sesuai dengan kemampuan satuan agar latihan dapat berjalan dengan lancar; 6)   Mengajukan dukungan perbaikan terhadap prasarana latihan yang mengalami kerusakan kepada Komando Atas;  7) Untuk mengatasi keterlambatan dana latihan  yang turun, maka diupayakan untuk ditanggulangi terlebih dahulu dengan menggunakan dana abadi yang ada di satuan dan dikembalikan setelah dana tersebut diterima.  Diamping hal tersebut, untuk memenuhi profesionalisme prajurit perlu juga diadakan kegiatan pengaturan jabatan dan kepangkatan yang disesuaikan dengan tingkat pendidikan anggota yang bersangkutan.   Keenam, dibidang moril, dilaksanakan upaya peningkatan kesejahteraan prajurit dengan melanjutkan pemberian hak-hak prajurit berupa gaji maupun insentif serta berbagai penghargaan yang diberikan kepada para anggota yang memiliki prestasi bagus; dan mengaktifkan kegiatan perkoperasian di lingkungan satuan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga anggota.  Ketujuh¸ dibidang pembekalan, perlu dilaksanakan kegiatan pembinaan mental baik mental rohani dengan menanamkan kesadaran beragama dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha  Esa; Pembinaan mental Idiologi, untuk memantapkan penghayatan dan pengamalan sila dari Pancasila; Pembinaan tradisi kejuangan dan sejarah dan meningkatkan peranan Bintal di Satuan jajaran Brigif dengan mengundang Kadisbintal di lingkungan Kotama maupun Bintalad.  Selain itu para anggota satuan jajaran Brigif perlu juga diberi bekal kesegaran jasmani dengan selalu memelihara dan meningkatkan kualitas kesamaptaan jasmani dan kesegaran jiwa prajurit melalui kegiatan olahraga umum maupun olahraga militer di satuannya masing-masing.  Kedelapan, dibidang kemanunggalan dengan rakyat, para anggota satuan jajaran Brigif perlu ditekankan pentingnya bersikap baik dengan masyarakat di sekitar lingkungan satuan sebagai bagian dari upaya pembinaan teritorial secara terbatas.   Dalam rangka melestarikan kemanunggalan TNI – Rakyat ini para anggota perlu mengadakan berbagai pendekatan secara ersuasif terhadap para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh pemuda di sekitar lingkungan satuan, sehingga dalam pelaksanaan tugas, satuan jajaran Brigif dapat memperoleh dukungan dan simpati dari masyarakat.
Dengan uraian diatas, maka dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa Brigif apabila dilihat dari kegiatan pengamanan personel, materiil, markas, profesionalisme prajurit, moril, penegakan hukum dan disiplin, pembekalan dan kemanunggalan dengan rakyat masih banyak kekurangan, sehingga satuan jajaran Brigif belum semua siap untuk diber tugas operasi sesuai dengan harapan dari Komando Atas.    Mengingat keberhasilan satuan masih harus didukung oleh profesionalisme personel satuan yang handal  sesuai bidang dan fungsinya maka upaya pembinaan satuan yang menyangkut pembinaan aspek personel, materiil, markas, moril dan kemanunggalan TNI – Rakyat harus dilakukan secara terprogram, bertahap, berlanjut dan berkesinambungan, sehingga dapat dicapai sasaran program pemantapan dan kesiapsiagaan operasional satuan.  Untuk mendukung penyelesaian tugas pokok serta satuan jajaran Brigif memiliki kesiapan operasional, maka disarankan agar satuan-satuan di Brigif melakukan penataan TOD/TOA bagi personel yang dinilai tidak efektif, mengajukan dukungan semua alpal dan sarana prasarana sesuai TOP, menyusun Rencana latihan yang pendistribusiannya tidak dilakukan secara mendadak, serta menjalankan Program Komando Atas dilaksanakan secara konsisten sehingga tidak timbul tumpang tindih dengan kegiatan satuan, dan terakhir adalah merencanakan pendidikan spesialisasi yang cukup sesuai dengan kebutuhan satuan.
          Demikian tulisan ini dibuat untuk dijadikan sebagai bahan masukan bagi Komando Atas dalam upaya untuk meningkatkan kesiapan operasi satuan jajaran Brigif, sehingga mampu menjalankan tugas pertempuran di darat dan melaksanakan upaya pembinaan teritorial terbatas  secara optimal di masa-masa yang akan datang.

No comments:

==================================================================
==================================================================
VILLA TEMPATKU DILAHIRKAN DAN DIBESARKAN


View My Saved Places in a larger map